Jumat, 25 September 2015

Jodi Picoult Part 1

Eh gw mau cerita bukunya Jodi Picoult yang akhir-akhir ini di baca. tapi gw mau mandi dulu.. mau basketan dulu..

hahaa


to be continue..

Mana Cerita Travelling?

Setahun ini memang ada beberapa kali traveling. Beberapa tempat cantik di indonesia dan negara-negara tetangga. Lalu mana ceritanya?

I will keep it for my self. hahahaha

Rasanya ko belom ada mood untuk cerita-cerita tentang jalan-jalan kemaren. Ya lagian juga ini bukan blog traveler :p and i am not a traveller anyway. Blog ini memang sampah juga kok. sampah kehidupan yang rela dibagi. halah.

Selasa, 04 Agustus 2015

Ketika BAPER Merusak Mimpi

Setelah tadi self-blog-walking halah... maksudnya baca-baca postingan blog yang sudah menjamur ini macam tisu-tisu bekas air mata di kolong ranjang. (BEKAS AIR MATA YA). #penegasan.
Gw baru sadar, bukan sadar karena empat postingan terakhir yang super BAPER (Bawa Perasaan) tapi sadar akan hidup yang selama ini dihabiskan energinya dengan terlalu banyak memikirkan dan terfokus dengan perasaan. Baik perasaan sendiri, perasaan orang, perasaan terhadap diri sendiri, atau pun perasaan terhadap orang, dan juga menjaga perasaan sendiri maupun menjaga perasaan orang. Nah kan, ada berapa tuh kata-kata perasaan di kalimat gw tadi.

Senin, 03 Agustus 2015

Ini bukan senin pertama 2015

Senin 3 Agustus 2015 12:02 siang.

Iya siang. Masih disini, bersama selimut yang memeluk erat semalam.



Senin, 29 Desember 2014

Minggu, 26 Oktober 2014

Perempuan Yang Bersyukur

Perempuan ini hendak mengucap syukur. Syukur kepada setiap napas semesta, bukan pada Tuhan. Karena pada Tuhan biarlah menjadi urusan dan rahasianya.

Perempuan ini bersyukur atas semua pahit yang dirasakan yang akhirnya bisa mengecap rasa manis, katanya.

Perempuan ini bersyukur atas segala hianat yang di telan bulat-bulat yang melahirkan setia sampai akhir hayat, katanya.

Perempuan ini bersyukur untuk setiap ingkar terucap yang pada akhirnya menjadi ikrar abadi, katanya.

Perempuan ini bersyukur atas setiap tatapan sayu dari hati yang retak yang pada akhirnya menjadi tatapan jendela hati abadi, katanya.



Iya. Katanya.


Selasa, 17 Juni 2014

Ini Jantung

Ini Jantung, ini daging berdenyut bukan batu, bukan baja. 
Ini jantung, ada otot dan saraf yang bisa merespon rasa. 
Ini jantung, darah mengalir di setiap sudutnya. 
Ini jantung, yang bisa menari disaat kulit asing tampan bersentuhan dengan kulit buruk ini. 
Ini jantung, yg ingin teriakannya didengar. 
Ini jantung, bisu tak bisa bicara. 
Ini jantung, dimana rasanya dilempar ke angkasa saat temannya si kuping mendengar “datang ya ke pernikahanku” dan diteruskan otot-otot serta saraf yang menimbulkan sensasi dada perih. 
Ini jantung, dimana ingin rasanya tidak berdenyut disaat terngiang dalam banyangan berkata “saya terima nikahnya….” dan yg disebutkan nama jantung lain. 
ini jantung, mencoba bertahan dengan sensasi terhempas tapi tidak merasakannya. 
Ini jantung, dimana darah mengalir dan mulai bercucuran rembes menyakiti organ lain. 
Ini jantung, dimana terukir satu nama. 
Ini jantung yang meratap mohon Tuhan menghentikan sensasi perihnya saat retak. 
Ini jantung, mencari jalan keluar untuk mencuat dan berhenti berteriak. 
Ini jantung, yg setiap hari berdoa untuk jantung yg berdetak untuk jantung yg lain bukan dirinya. 
Ini jantung, yang akan berhenti tapi tetap terukir satu nama. 
Ini jantung, lelah menari, lelah terbang, lelah memohon, lelah merasakan, lelah terlempar, lelah berdenyut, lelah bercucur, lelah meratap. 

Ini jantung.
ini berdenyut.
ini menggelepar.
ini luka.
ini sakit.



-Setiabudi, 20 Desember 2012.